7 Langkah Mendidik Anak Agar Cerdas dan Percaya Diri

Memiliki anak yang cerdas dan percaya diri tentu menjadi dambaan setiap orang tua ya kan. Tapi bagaimana ya cara memberikan dukungan dan perlindungan yang tepat untuk menumbuhkan hal-hal tersebut? Berikut adalah beberapa cara mendidik anak agar cerdas dan percaya diri yang telah dirangkum secara lengkap oleh Team youthscarf!

 

1. Kecerdasan pada anak 

Setiap anak unik dan memiliki tipe kecerdasan yang berbeda-beda.

"Kecerdasan mencerminkan kemampuan umum untuk memproses informasi, yang memperkenalkan pembelajaran, pemahaman, penalaran, dan pemecahan masalah," menurut Linda S. Gottfredson, PhD, seorang profesor pendidikan di University of Delaware di Newark. "Ini mempengaruhi banyak jenis perilaku sehari-hari."

Ahli psikiatri dari Utrecht University Medical mengatakan, kecerdasan berasal dari gen ibu bukan hal yang mutlak. Bisa saja orangtua memiliki kecerdasan yang rendah, tapi ternyata menghasilkan anak yang memiliki IQ tinggi atau sebaliknya. Selain faktor genetik, kecerdasan anak sisanya bergantung pada lingkungan.

 

2. Kepercayaan diri pada anak

youthsister pasti telah mendengar bahwa kegagalan itu baik untuk anak-anak, dan membangun daya tahan mereka terhadap lingkungannya. 

Tetapi ketika anak-anak gagal berulang kali dan tidak memiliki dukungan untuk terus berusaha, yang mereka pelajari hanyalah mereka gagal. 

Ketangguhan bukan berasal dari kegagalan, tetapi dari pengalaman belajar yang dapat anak-anak lakukan sendiri coba lagi, dan sukses. Itu membutuhkan setidaknya beberapa pengalaman sukses, dan banyak dukungan emosional lho youthsister.

Percaya diri adalah perasaan percaya pada diri sendiri. Menjadi percaya diri berarti memiliki kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Sebagai orang tua, tentu youtghsister sedih apabila mendengar anak-anak mengatakan hal-hal negatif tentang diri mereka sendiri. Tetapi, ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mulai berpikir tentang dunia dengan cara yang lebih kompleks, mereka juga menjadi lebih kritis terhadap diri sendiri. 

Yang mengkhawatirkan, penelitian menunjukkan bahwa harga diri pada banyak anak mengalami penurunan tajam mulai sekitar usia delapan tahun, dan penurunan ini berlanjut hingga masa remaja awal. 

Jadi, bagaimana ya caranya agar orang tua bisa mengubah kecenderungan ini dan membantu anak membangun kecerdasan dan rasa percaya diri?  Ada berbagai cara nih youthsister.

 

1. Menahan keinginan untuk selalu mengatur dan mengendalikan adalah kunci utama agar anak cerdas dan percaya diri
Alih-alih mengatur dan mengendalikan, membimbing sang buah hati untuk dapat mengembangkan keterampilannya akan terdengar jauh lebih baik. 

Mengambil alih semua hal yang seharusnya bisa dilakukannya sendiri, sama saja seperti mengambil kesempatannya untuk dapat belajar. Kecerdasan merupakan konsekuensi dari terlatihnya kemampuan pemecahan masalah jugaa youthsister.

Memberikan ia kesempatan untuk belajar juga berarti mengajarinya bagaimana cara membangun rasa percaya diri akan kemampuannya sendiri. Belajarlah untuk mengelola kecemasan diri terhadap anak dan lepaskanlah keinginan untuk selalu mengendalikan apa yang mereka akan lakukan. 

 

2. Tidak menjadikan kesempurnaan sebagai hal yang utama

Saat anak selalu dituntut untuk mencapai hasil yang sempurna, ia akan kehilangan arti dari indahnya proses belajar. 

Sebagai orangtua, ada baiknya youthsister membiasakan diri untuk tidak menjadikan kesempurnaan sebagai hal yang utama ini akan ditiru oleh sang buah hati nantinya.

Instruksi yang diberikan pada anak hingga ia tidak dapat memikirkan langkah untuk dirinya sendiri secara terus-terusan dapat mengganggu kepercayaan diri dan mencegahnya untuk belajar sendiri.  

 

3. Mendidik anak agar cerdas dan percaya diri dengan membiarkan anak bereksperimen sendiri sejak usia dini

Mungkin kita pernah berpikir, apakah membiarkan anak untuk bereksperimen sendiri sama seperti mengabaikannya? Jawabannya, tentu tidak sama!

Hal yang dapat dilakukan sebagai orang tua yang menginginkan buah hati yang cerdas dan percaya diri adalah mengawasi. Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk benar-benar turun tangan membantu sangat baik untuk dilakukan juga youthsister.

Melarang anak untuk memanjat, mencoba berbagai permainan, atau bereksperimen dengan hal-hal baru lainnya akan membuat anak-anak merasa dibatasi. Hal ini juga tidak akan baik untuk perkembangan dirinya.

Mintalah sang buah hati untuk menjaga dirinya sendiri, lalu berdiri dan perhatikan dia. Tersenyumlah dengan bangga sambil mengatakan:


“Lihat! Ayah/Ibu tahu kamu pasti bisa melakukannya nak!”

 

4. Alih-alih mengevaluasi, beri penjelasan dan berempati

Pujian seperti mengevaluasi hasil tindakan anak hanya dengan kalimat: "Kerja bagus!" tidak memberi anak banyak informasi mengenai apa hal baik yang telah dia lakukan, atau mengapa orang tua berpikir itu baik.

Hal tersebut juga dapat membuat anak nantinya terlalu mengandalkan sumber eksternal untuk memberikan validasi terhadap kemampuan dirinya. Ini tentu tidak baik.

Alih-alih sekedar memuji keberhasilannya, cukup jelaskan apa yang dia lakukan dan berikan empati dengan apa yang harus anak rasakan:

“Kakak nggak capek mencoba dan pantang menyerah. Kamu pasti merasa bangga, ya, karena telah berhasil menyelesaikan semuanya!”

 

5. Fokus pada upaya, bukan hasil adalah cara yang tepat agar anak dapat tumbuh cerdas dan percaya diri

 

“Ayah/Ibu melihat Kakak sudah bekerja sangat keras dalam hal ini.”

"Wah, bagaimana cara Kakak sampai berhasil melakukan itu?"

Berikan umpan balik positif tentang hal-hal tertentu apa yang bisa anak kontrol seperti kerja keras atau ketekunan, alih-alih hal yang tidak dapat ia kontrol, seperti menjadi pintar.

Tujuannya agar anak dapat terus berusaha, berlatih, meningkatkan, dan anak dapat belajar bahwa ketika ia bekerja keras, ia dapat mencapai tujuannya.

 

6. Jangan khawatir tentang apa yang akan anak rasakan

Ketika anak menghadapi frustrasi, ingatlah bahwa empati orang tua akan menjadi faktor penting dalam mengatasinya. Alih-alih mengambil jalan pintas untuk menghilangkan sumber frustrasi, berikan konteks yang lebih luas dengan mengkomunikasikan kasih sayang youthsister bahwa ia harus menghadapi keadaan ini:

"Wah ini memang keadaan yang sulit bagi Kakak ..."

"Memang benar-benar mengecewakan ketika ...."

"Ini bukan tentang bagaimana kamu bisa berharap itu akan berubah ..."

Tidak apa-apa bila anak merasa frustrasi dan kecewa. Anak mungkin menangis dan merajuk sepanjang hari, tetapi rasa pengertian tanpa syarat dari orang tua akan membantunya untuk menerima posisi sulit termasuk duka, marah, atau kecewa.

Setelah anak selesai berduka, ia akan lebih siap untuk menenangkan diri dan mencoba lagi pada hari berikutnya, terutama ketika orang tua dapat mengekspresikan kepercayaan dirinya untuknya. Begitulah cara anak-anak mengembangkan daya tahan dan kegigihan.

 

7. Tegaskan kemampuan anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak

Kompetensi dan perasaan penguasaan adalah tentang kekuatan dan berasal dari pengalaman seorang anak tentang dirinya sendiri.

"Jika aku berdiri di atas bangku, aku bisa membalik saklar lampu ini dan menyalakan ruangan!"

Semua anak akan mengalami batasan yang wajar untuk kekuatan mereka ("Aku tidak bisa menghentikan hujan, dan begitu pula Ayah/Ibu"), tetapi semakin anak memiliki kesempatan untuk membuat perbedaan di dunia, semakin dia akan melihat bahwa dirinya mampu.

Pada akhirnya, semua anak akan tumbuh dan hidup tanpa kita. Bagaimana mereka hidup tergantung pada apakah kita mampu mengatasi kecemasan kita sendiri dan dorongan kita untuk mengendalikan anak kita. 

Youthsister pasti pernah mendengar pepatah lama tentang memberi anak-anak kita akar dan sayap? Cinta tanpa syarat adalah akarnya. Keyakinan adalah sayap. Anak-anak yang tumbuh dengan memiliki keduanya akan hidup dengan cara yang luar biasa. Itulah 7 cara mendidik anak agar cerdas dan percaya diri, youthsister! Selamat mencoba yaa!